Menatap keindahan dan kesan terhadap sebuah landscape (keadaan alam) berlawanan dengan menghadapi atau mengenal pacar. Kalau pemandangan atau lingkungan, semakin sering kita lihat semakin membosankan atau maksimal biasa-biasa saja. Walaupun ada gunung yang melingkar di seputaran rumah tinggal, ya biasa-biasa saja. Banyak kicau burung beraneka warna dan suara, juga tidak membuat berdecak kagum. Air terjun yang jatuh di hilir desa, juga bukan istimewa; malah sering dianggap kendala, karena tidak bisa dimanfaatkan dan hanya membuat kita harus menghindar dari uapnya. Topografi tanah naik turun membuat jengkel, karena membuat kita berjalan menjadi tersengal-sengal.Awan yang segera muncul di pagi hari membuat jemuran tidak segera kering. Angin berembus lebih kencang sedikit, membuat ibu rumah tangga nambah pekerjaan karena segera harus menyapu pekarangan lagi. Pohon-pohon bear rasany perlu ditebangi karena membuat suasana serem di malam hari, meskipun kemungkinan roboh sendiri sulit terjadi karena akarnya umumnya kuat dan dalam. Gemercik air mengalir lewat di belakang rumah, bukan lagi "sesuatu" yang perlu mendapat tempat dan perhatian seperti halnya lagu baru dalam album penyanyi terkenal. Ayam kampung yang berkejaran dan berbaris mencari makan sendiri di bawah daun-daun kering, bukan juga obyek perhatian apalagi obyek kamera. Awan hujan yang turun ke tanah, hingga membuat pandangan tertutup dan lingkungan menjadi serba putih, paling hanya dihindari agar tidak membuat badan masuk angin.
Demikianlah "nasib" pemandangan kampung bagi inlander-nya atau penghuni totoknya. Bagaimana pun "fashionnya" ia hanya dianggap kawan lama yang tidak membawa penyegaran rasa, apalagi kekaguman.
Lain halnya kalau kemudian datang orang2 asing atau bule2 silih berganti sekedar menatap, geleng-geleng, kemudian mengambil gambar dari 'angel-angel' yang berlainan dengan kamera serba mutakhir dari yang berukuran besar sampai hanya seukuran korek api. Petani penggarap sawah yg ditemui diminta dengan hormat oleh tourist untuk mengulang "action"nya dan diambil gambarnya dari pematang sawah. Kemudian si tourist menyodorkan lembaran seratus ribuan, sebagai tanda terima kasih kepada Bapak Tua yg kulitnya 'cemong-cemong' berbalurlumpur sana sini.
Nah anggota masyarakat desa itu baru menyadari bahwa desanya ternyata disukai banyak orang, walaupun masyarakat tak tahu persis juga apanya yang disukai. Apakah kumalnya, lugunya, sikapnya, ataukah jalan2 desa yang masih asli, dstnya
Masyarakat desa juga baru lebih memahami dan sedikit bangga bahwa desanya (keunikan2 pemandangannya) telah terpampang di internet tanpa menyebut secara spesifik situs, blog atau website.
Desa saya, Lemukih, berada di dekat danau di Bedugul Bali. Berada di lingkaran bukit yang membentuk huruf "U" dengan view lepas ke laut di Utara. Bisa diakses melalui jalan beraspal - walau kurang bagus bila dibandingkan dengan jalan-jalan di Bali bagian lain - dari Gitgit (sebelah Utara danau Buyan dan Tamblingan) sehingga akan masuk dari sebelah selatan desa, atau masuk dari Utara, melalui Desa Sangsit, Sawan dstnya. Hawanya jangan ditanya lagi, pasti sejuk, bahkan cenderung dingin, lebih-lebih di musim hujan berkepanjangan ini. Kini, banyak paket wisata yg ditawarkan kepada umumnya orang2 Eropa ttg eksotisitas obyek2 wisata di Lemukih dan sekitarnya. Antara lain adalah Lemukih waterfall, di mana ada 5 mata air terjun berdekatan dengan ketinggian yang tidak kalah dengan Gitgit Waterfal.
Pertanyaannya mengapa orang2 Eropa, khususnya orang Belanda suka pada pemandangan alam yg berbukit dan air terjun? Saya menemukan jawabannya, antara lain karena di Belanda dan sekitarnya daerahnya sangat landai. Bahkan sangat rata. Tidak ada gunung2 dan tentu saja tidak ada air terjun. Juga, yg tak kalah menarik di kita adalah budaya-budaya yang "biasa" bagi kita, namun asik, unik dan menarik bagi mereka.
Begitulah rupanya hukum "ketertarikan" terhadap alam. Sesuatu yang "tumben" akan membuat "Wahh...ini baru! Bagus", dan yang sudah lama membuat "bah...ini apaan? Bosan"
Rabu, 23 Maret 2011
Langganan:
Postingan (Atom)